Medan | Jurnal Asia
Produsen kecantikan asal Indonesia, Curaskin melakukan ekspansi ke Kota Medan. Pihaknya optimis, produk kecantikan ini siap bersaing dengan produk luar negeri dengan menyasar konsumen dari usia 18 hingga 50 tahun.

Founder Curaskin, dr Elia Gunawan mengatakan, meski masih pemain baru di bisnis produk kecantikan setelah sebelumnya di luncurkan pada Juni 2019 kemarin di Surabaya, ia yakin produk tersebut akan diterima pasar.

Optimisme ini didasari dengan semakin banyak wanita yang memperdulikan kecantikan dirinya. Selain itu mereka mencari produk yang sesuai dengan kebutuhan kulitnya.

“Medan merupakan kota ketiga, sebelumnya sudah ada di Surabaya dan Jakarta dan setelah ini kami akan ke Solo, Bekasi dan Tanggerang,” katanya di Centre Point Medan, Minggu (20/10).

Meski diproduksi di Indonesia, hampir 90 persen bahan baku di impor dari Amerika Serikat. Produk ini mengandung 8 komponen yakni, persentase Pori pori (RGB Pore), bintik hitam (RGB Spot), kerutan (RGB Wrinkle), sel kulit mati (RGB Roughness), kelenjar minyak (UV porphryn), warna kulit (UV pigmentasi), kelembaban kulit (UV moisture) dan keurakan kulit akibat UV (UV damage).

Menurutnya, masalah kulit yang sering terjadi di wilayah dengan iklim tropis seperti Indonesia ini adalah pigmen. Di mana perempuan ingin memiliki kulit lebih cerah apalagi dengan matahari yang terik sehingga kulit gampang gelap.

“Whitening dan pigmentasi itu isu nomor satu karenanya konsumen harus menggunakan produk dengan akndungan, tabir surya yang dioles tiap tiga jam. Jika ingin cerah dan pigmentasi memudar tentu harus mengunakan produk yang menghambat timbulnya pigmentasi itu kembali,” ujarnya.

Ia berharap, produk kecantikan ini dapat di terima konsumen di Indonesia dan kedepan akan merambah pasar internasional.

“Kami optimis sekali karena kami mengusung kalau cocok baru bayar. Tidak ada satu produk kecantikan yang berani mengklaim seperti ini,” pungkasnya.(nty)